Pertanyaan yang menjadi judul di atas pasti sering terlontar di dalam hati setiap orang. Saat seorang individu beranjak dewasa, saat ia mulai penasaran akan cinta, saat feromonnya mulai bekerja, saat itulah ia mulai mempertanyakan hal semacam ini. Entah pertanyaan itu dilontarkan kepada Tuhannya, orang tua, teman, atau dirinya sendiri.
Saya pun sedang mempertanyakan hal tersebut saat ini. Entah kenapa timbul rasa penasaran tentang gambaran wanita yang akan menemani sisa hidup saya di masa depan, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak saya.
Seorang teman pernah sedikit berpendapat saat kami masih duduk di kelas 3 SMP. Ia berkata bahwa jodoh kita nanti adalah wanita yang ada pada “mimpi basah” kita. Jujur, saat itu saya bingung. Bukan karena kelogisan dari pernyataan teman tersebut, tapi bingung karena saat mimpi itu saya tidak melihat jelas siapa wanita yang “menemani” malam itu. Ya…untuk beberapa waktu saya bisa menerima pendapat teman saya.
Namun belakangan, saya meragukannya. Apa mungkin sesederhana itu? Apa mungkin kita bisa tahu masa depan kita lewat mimpi? Untuk seorang peramal ulung, mungkin. Tapi saya, dan teman saya itu, sama sekali bukan peramal. Bukankah kita tidak akan pernah tahu siapa jodoh kita sebelum kita bertemu dengannya?
Bicara jodoh, saya jadi ingat pada salah satu dialog dalam film Ayat-Ayat Cinta. Inti dari dialog tersebut adalah bahwa jodoh bukan turun dari langit, melainkan turun dari hati. Sebuah pernyataan yang menarik, jodoh datang dari hati.
Menilik pernyataan tersebut, timbul pertanyaan dalam benak saya. Apa itu berarti, kitalah yang menentukan siapa jodoh kita? Bukankah jodoh merupakan salah satu rahasia besar Allah terhadap umatnya? Bingung saya.
Sebuah idiom klasik membuat saya tambah bingung. Idiom tersebut memberitahu bahwa orang yang berjodoh biasanya mirip, seperti saudara kandung. Lagi-lagi sebuah pernyataan yang menarik, jodoh itu mirip.
Dengan segala keterbatasan pemikiran, saya mencoba menghubungkan kedua pernyataan tersebut selogis-logisnya. Menurut saya, bila diambil jalan tengah dari keduanya maka didapat pernyataan baru, yaitu jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri.
Setiap kita mulai menyukai seorang lawan jenis, maka secara tidak sadar kita telah melakukan penilaian terhadap diri kita. Siapa kita dan siapa dia? Seperti apa kita dan seperti apa dia? Otak dan hati kita mengisyaratkan untuk terus mendekatinya atau justru merelakan dia bukan milik kita. Alasannya, karena kita memang tahu bahwa ia “pas” dengan kita atau ia kurang “pas”. Gampangnya, bila menurut orang lain, seorang gadis yang benar-benar kita sukai “bernilai” 8, maka sebenarnya kita pun “bernilai” 8. Ada kemungkinan kita menyukai gadis di atas nilai 8, tapi kecil kemungkinan kita menyukai gadis di bawah nilai 8. Namun tetap, jodoh kita adalah gadis dengan nilai 8 tersebut. Abstrak memang.
Nilai yang dimaksud di sini bukan sekedar fisik, melainkan secara keseluruhan, luar dalam. Diri kita dan dirinya, sama. Secara fisik, perbedaannya tidak terlalu jauh. Secara kepribadian dan sifat pun, satu sama. Oleh karena itu, jodoh kita nanti, tidak akan jauh berbeda dengan diri kita sendiri. Hal ini menjelaskan pernyataan “jodoh itu mirip” di atas.
Dan, jodoh tersebut memang kita yang menentukan, lebih tepatnya hati kita. Hati kita menyadari siapa yang cocok dengan kita. Logika berpikir kita pun membantunya dengan segala pertimbangan-pertimbangan. Hingga akhirnya kita berani memutuskan bahwa ia adalah jodoh kita. Tentunya pertimbangan-pertimbangan tersebut sangat abstrak dan subjektif. Hanya kita yang mengerti. Hebatnya lagi, Allah Yang Maha Mengetahui, juga sepaham dengan kita. Ia paling tahu siapa pasangan yang tepat untuk kita. Pernyataan “jodoh datang dari hati” pun bisa dijelaskan.
Menurut pemikiran saya seperti itu. Bila sedikit ingin tentang seperti apa jodoh kita kelak, sebaiknya kita mulai berkaca. Jika kita merasa diri kita adalah pribadi yang baik dan berakhlak mulia, maka insyaAllah jodoh kita pun baik dan berakhlak mulia. Begitupun sebaliknya. Seperti ungkapan “Menanam kebaikan, maka menuai kebaikan pula”, bukan begitu?
Jadi, kira-kira seperti apa jodoh anda kelak?
DIarsipkan di bawah: Filosofi | Leave a Comment »